Surabaya (ranakita.id) – Peristiwa tragis yang menimpa seorang anak berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali membuka diskursus serius mengenai kondisi kesehatan mental anak di Indonesia, khususnya di wilayah dengan keterbatasan akses sosial dan layanan psikologis.
Korban berinisial YBR, siswa kelas IV sekolah dasar, ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) di area kebun milik keluarganya di Dusun IV, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu. Kejadian tersebut pertama kali diketahui oleh warga sekitar dan langsung mengguncang keluarga serta masyarakat setempat.
Kasus ini mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan, termasuk akademisi. Guru Besar Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Bagong Suyanto, menilai peristiwa tersebut sebagai peringatan keras bagi semua pihak agar lebih peka terhadap kondisi psikologis anak-anak, terutama mereka yang tumbuh dalam lingkungan sosial rentan.
Menurut Prof. Bagong, anak-anak di wilayah pedesaan dan terpencil kerap luput dari pemantauan kesehatan mental karena keterbatasan fasilitas dan minimnya kesadaran kolektif. Kondisi tersebut berpotensi membuat anak merasa terisolasi dan tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan tekanan emosional yang dialami.
Ia menegaskan bahwa keluarga dan lingkungan sekitar memiliki peran krusial dalam mendeteksi perubahan perilaku anak. Anak yang cenderung pendiam, menarik diri, atau mengalami perubahan sikap drastis perlu mendapatkan perhatian lebih agar potensi masalah psikologis dapat ditangani sejak dini.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, YBR diketahui sejak usia balita tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada. Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya telah merantau ke Kalimantan lebih dari satu dekade lalu dan tidak pernah kembali, sementara sang ibu tidak lagi tinggal bersamanya.
Prof. Bagong juga menyoroti faktor tekanan ekonomi sebagai salah satu aspek yang dapat memengaruhi kesehatan mental anak. Menurutnya, kemiskinan tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga menimbulkan stres berkepanjangan yang dapat dirasakan anak, meski sering kali tidak terungkap secara verbal.
Dalam pandangannya, negara dan pemerintah daerah perlu memperkuat pendekatan berbasis komunitas melalui pengembangan community support system. Lembaga sosial lokal, sekolah, serta tokoh masyarakat dinilai harus dilibatkan secara aktif untuk membangun jaringan dukungan psikososial yang mampu menjangkau keluarga di wilayah dengan keterbatasan layanan.
Prof. Bagong berharap tragedi ini menjadi momentum evaluasi bersama agar kesehatan mental anak tidak lagi dipandang sebagai isu sekunder. Upaya pencegahan, menurutnya, harus dimulai dari lingkungan terdekat anak dengan dukungan kebijakan yang berkelanjutan.
Catatan penting:
Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami tekanan psikologis atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, bantuan tersedia. Layanan SEJIWA 119 ext. 8 dapat dihubungi untuk mendapatkan dukungan kesehatan mental secara gratis di Indonesia. ***

