Jakarta (ranakita.id) – Di tengah capaian penurunan angka stunting, Indonesia justru menghadapi beban gizi baru yang lebih tersembunyi dan tak kalah mengkhawatirkan. Dokter memperingatkan maraknya kasus hidden hunger atau kelaparan terselubung pada anak, di mana mereka tampak sehat, aktif, namun ternyata mengalami defisiensi mikronutrien penting.
dr. Monique Carolina Widjaja, M.Gizi, Sp.GK, Dokter Gizi Klinik dari Primaya Hospital Tangerang, menjelaskan bahwa saat ini Indonesia sedang berhadapan dengan triple burden of malnutrition. Selain stunting dan obesitas, defisiensi mikronutrien seperti zat besi, zinc, dan vitamin D kini banyak ditemui, sering kali luput dari perhatian orang tua.
Fokus Rasa Kenyang vs. Kualitas Gizi
Menurut dr. Monique, akar masalahnya sering terletak pada pola pikir yang keliru. Banyak orang tua berfokus pada membuat anak kenyang, bukan pada memastikan asupan gizi yang berkualitas dan seimbang. Akibatnya, piring anak didominasi karbohidrat, namun minim protein hewani dan mikronutrien esensial.
Faktor pendorong utama lainnya adalah masifnya konsumsi ultra processed food (UPF) seperti nugget, sosis, sereal sangat manis, dan aneka camilan kemasan. Makanan ini, meski lezat dan praktis, memiliki nilai gizi yang rendah. Dalam jangka panjang, konsumsi UPF berlebihan dapat merusak sistem rasa kenyang alami tubuh anak, memicu obesitas, dan meningkatkan risiko penyakit metabolik sejak dini.
Tanda-Tanda Halus yang Sering Diabaikan
Hidden hunger disebut demikian karena gejalanya tidak selalu tampak jelas seperti anak kurus kering. dr. Monique mengungkap sejumlah tanda halus yang patut diwaspadai:
- Anak mudah lelah, lesu, dan sulit berkonsentrasi.
- Mengalami sariawan berulang atau gusi yang mudah berdarah.
- Memiliki rambut yang kusam, mudah rontok, serta kuku yang rapuh.
- Sering sakit atau mengalami infeksi berulang, menandakan daya tahan tubuh yang lemah.
“Anak bisa terlihat lincah dan sehat secara fisik, tetapi secara biologis, tubuhnya mengalami kekurangan zat gizi mikro yang vital. Gejala-gejala ini kerap dianggap hal sepele atau fase normal tumbuh kembang, padahal bisa jadi alarm awal masalah malnutrisi,” tegasnya.
Skrining Gizi: Investasi Kesehatan Jangka Panjang
Oleh karena itu, dr. Monique menekankan bahwa skrining gizi rutin harus menjadi bagian dari pemantauan kesehatan anak, setara pentingnya dengan imunisasi. Skrining ini bertujuan untuk mendeteksi hidden hunger sedini mungkin, memantau tren pertumbuhan secara komprehensif, dan mencegah komplikasi jangka panjang seperti stunting terselubung atau penyakit degeneratif.
- Skrining gizi yang ideal tidak hanya sekadar menimbang dan mengukur tinggi badan. Prosesnya mencakup:
- Pengukuran antropometri lengkap (berat, tinggi, lingkar kepala, lingkar lengan).
- Pemeriksaan fisik menyeluruh terhadap kondisi kulit, rambut, mata, dan rongga mulut.
- Evaluasi mendalam tentang pola dan kebiasaan makan harian anak.
- Pemeriksaan penunjang seperti darah lengkap dan pemeriksaan status mikronutrien jika diperlukan.
Dengan edukasi yang tepat dan deteksi dini, masalah gizi pada anak sepenuhnya dapat dicegah. dr. Monique mengingatkan bahwa nutrisi di masa anak-anak adalah fondasi yang menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan daya saing mereka di masa depan.
“Apa yang ada di piring anak hari ini adalah investasi untuk masa depannya. Jangan sampai kita menunda atau menyepelekan pemenuhan gizinya hanya karena ia terlihat sehat,” pungkas dr. Monique. ***

