Surabaya (ranakita.id) – Pemerintah Kota Surabaya menjalin kemitraan strategis dengan Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta (ABP-PTSI) Jawa Timur. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengakselerasi program unggulan Wali Kota Eri Cahyadi, yaitu ‘Satu Keluarga Miskin Satu Sarjana’, melalui pemberian bantuan pembiayaan pendidikan.
Pertemuan antara Wali Kota Eri Cahyadi dengan Ketua ABP-PTSI Jatim, Dr. Budi Endarto, beserta jajaran dan perwakilan kampus swasta, digelar di rumah dinas wali kota, Sabtu (24/1/2026). Audiensi tersebut membahas sejumlah rencana kerja sama, dengan fokus utama pada penuntasan biaya kuliah bagi mahasiswa kurang mampu.
Dalam paparannya, Wali Kota yang akrab disapa Cak Eri itu menekankan bahwa kemajuan kota, termasuk dalam menurunkan angka stunting, kemiskinan, dan ketimpangan (gini ratio), adalah hasil gotong royong seluruh pemangku kepentingan. Ia menyebut peran Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sangat krusial untuk mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan kesejahteraan Surabaya.
“Kalau semua kampus turun ke masing-masing RW dan bersinergi, insya Allah selesai masalah-masalah di Surabaya,” ujar Eri Cahyadi, menegaskan pentingnya kolaborasi konkret.
Skema Bantuan UKT Penuh untuk Desil 1-5
Rencana aksi utama dari kolaborasi ini adalah pemberian bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) secara penuh. Pemkot Surabaya akan melakukan sinkronisasi data dengan kampus-kampus swasta untuk memetakan mahasiswa yang berasal dari keluarga masuk kategori Desil 1-5 atau 40% penduduk dengan penghasilan terendah.
Bantuan tidak hanya diperuntukkan bagi calon mahasiswa baru, tetapi juga bagi mereka yang sedang menjalani studi dan terkendala biaya. Dengan menutup kewajiban UKT, diharapkan beban finansial keluarga miskin dapat berkurang secara signifikan.
“Cara ini akan menggerakkan program satu keluarga miskin satu sarjana di Surabaya, dan memberi harapan baru,” jelas Cak Eri.
Revolusi Penyaluran Bantuan Pendidikan
Ketua ABP-PTSI Jatim, Dr. Budi Endarto, menyambut baik inisiatif Pemkot Surabaya ini. Ia menilai pemetaan yang dilakukan merupakan terobosan berani yang dapat merevolusi penyaluran bantuan pendidikan.
Selama ini, banyak mahasiswa PTS yang sebenarnya berasal dari keluarga tidak mampu, namun seringkali tidak terjangkau oleh program bantuan yang ada. Kolaborasi ini diharapkan dapat membuat bantuan menjadi lebih tepat sasaran.
“Ini mungkin akan menjadi suatu gerakan yang revolusioner. Ternyata (keluarga miskin) melimpah di PTS,” kata Budi Endarto.
Ia berharap kontribusi PTS dalam mengawal peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia di Surabaya semakin diakui. Sinergi ini diyakini dapat membuka akses pendidikan tinggi yang lebih luas dan merata.
Sinergi Lebih Luas: KKN dan Kelanjutan Studi
Selain program beasiswa, rencana kerja sama juga mencakup kolaborasi dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa diharapkan dapat turun langsung ke masyarakat, khususnya di tingkat Rukun Warga (RW), untuk ikut menyelesaikan permasalahan sosial kota sesuai dengan bidang keilmuannya.
Pembahasan juga menyentuh aspek keberlanjutan setelah lulus. Komitmen bersama diperlukan untuk memastikan lulusan sarjana dari keluarga miskin ini dapat terserap di dunia kerja atau menciptakan lapangan usaha, sehingga gelar yang diperoleh benar-benar mengubah taraf hidup keluarga.
Kolaborasi Pemkot Surabaya dengan ABP-PTSI Jatim ini menandai pendekatan baru dalam pembangunan pendidikan berbasis gotong royong, dengan target yang terukur: memastikan setiap keluarga kurang mampu di Surabaya minimal memiliki satu anak yang menyandang gelar sarjana. ***

